Tampilkan postingan dengan label Mertuaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mertuaku. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

"Saran doa pak Ustad"

Semalam saat aku bertandang ke Resto salah seorang teman untuk urusan bisnis,tiba2 temanku menawarkan aku dan suami untuk ikut serta mengantar kakaknya berobat ke seorang ustad. pengobatan alternatif dengan jalan doa dan ramuan jamu yang dibuat oleh sang ustad. Temanku menyarankan untuk aku mengkonsultasikan sakit stroke ibu. Siapa tahu ada jodoh bisa sembuh, melihat perkembangan dari kakak temanku lumayan baik dan semakin membaik.

Ringkas cerita karena cerita ini bukan novel tapi tepatnya cerpen, setelah aku menerangkan keadaan sakit ibu mulai A-Z, sang ustad menggelengkan kepala beberapa kali. Aku melihat ada rasa prihatin semburat keluar.

"Hmmm...parah itu mbak.." kata ustad dengan menarik nafas panjang.
"Lalu maunya mbak bagaimana...?" sambung ustad bertanya padaku
"Ya...bagaimana enaknya ustad? apa ibu saya bawa kesini lain waktu untuk diperiksa... atau cukup dengan membeli jamu ustad saja?" jawabku yang balik bertanya. semoga tidak terlihat kurang sopan..
"Ooh..tidak bisa pake jamu ini mbak. saya ga berani. kasihan jantungnya nanti kalau diminumi jamu.Takut ga kuat"
"Trus bagaiman ustad?"
"Nanti saya kasih sarang semut putih saja... coba dimasak dan diminumkan, semoga ada perubahan. Sambil kita berdoa kepada Allah. Nanti saya bantu berdoa memohon kepada Allah. Sebelumnya saya tanya mbaknya dulu ini..., bagaimana kalau saya berdoa memohon kepada Allah agar ibunya mbak bila memang Allah berkenan memberi kesembuhan ya cepat diberi kesembuhan, dan apabila Allah berkenan ibu berpulang...ya semoga cepat berpulang. biar ga lama-lama... kasihan. kasihan ibu juga kasihan yang ngerawat.Bagaimana...? saya terserah mbaknya saja..?" jelas ustad panjang lebar.

Beberapa saat kurasakan jantungku berhenti sejenak. sedikit sesak dadaku mendengarkan rangkaian doa yang disarankan pak ustad. Ada hal yang sedikit mengganjal dan tidak bisa kuterima. 'Ibu berpulang...?? bagaimana? jika ibu cepat sembuh dan sehat itu hal yang memang mudah diterima dan harapan besar kami. Tapi bagaimana kalau ibu cepat berpulang?? Bagaimana?Bagaimana?' hatiku berbisik-bisik membuat aku tambah bingung memberi jawaban. Kulirik suamiku dan berharap suamiku memberi jawaban, tapi suamiku lebih memilih diam dan larut dalam pikirannya sendiri.

"hmm...gimana ya ustad...? doanya koq begitu.. saya jadi bingung" jawabku menggambarkan hatiku
"ya terserah mbak saja, bagaimana. ya dipikirkan saja dulu ga papa.. " sahut pak ustad
"Gapapa mbak...mungkin itu yang terbaik. daripada sakit terus mbak.. kasihan. bila sembuh ya cepat sembuh,bila berpulang ya cepat berpulang..." temanku mencoba memberi dukungan mental padaku. Tapi hatiku tetap belum bisa menerima, tapi tak mampu berucap.
"karena ada cerita juga mbak...si fulan sakit ga bisa apa2, berbaring saja ditempat tidur sampai punggungnya luka dan bau ga enak. Tapi ga berpulang2 juga. ini kan jadinya hidup susah mati susah. Kemudian saya coba bantu dengan doa, alhamdulillah sembuh dan sehat wal'afiat sampai sekarang. Dan juga jangan artikan doa saya atau saran saya itu merupakan fonis bahwa ibunya mbak ga panjang umur dan sebenar lagi... tidak lho ya.. demi Allah saya tidak bermaksud mengatakan itu. saya tidak punya hak atas umur manusia" jelas ustad

Ringkas cerita karena ini bukan novel tapi cerpen, kami berpamit pulang tanpa memberi jawaban dari saran doa yang diajukan pak ustad. Tapi kami sudah diberi ole2 sarang semut putih untuk diminumkan ibu.

Dalam perjalanan pulang kami membicarakan lagi mengenai doa itu.
"Mas, aku koq nggak sreg ya dengan doa itu. Ibu lho sakitnya belum lama. kalau dihitung ya sekitar 6 bulanan. Tapi yang sudah benar2 ga bisa aktivitas dan perlu perawatan kan baru 2 bulan ini. Aku saja yang merawat ibu belum merasa cukup puas atau bosen atau istilahnya sudah menyerah. Iya kalau hitungan tahun begitu...bagaimana menurutmu?" panjang celotehku memecah keheningan malam.
"Iya...apalagi ibu kan sebenarnya kalau diajak ngomong masih bisa. dan ga lemes2 banget."
"He'em. Apalagi, menurutku ini kan sebenarnya kesempatan kita untuk mencari barokahnya ibu. Makanya, jangan suka nada tinggi sama ibu. meski dicubiti ya dinikmati saja. jangan dimarahi ibu. lha wong ibu ga sadar koq. dinikmati saja cubitan, pukulan, juga cakarannya yang sudah bikin tanganmu berdarah itu..seperti kata pak ustad itu lho mas. kalau dicubit kita bilang aduuhhhh enaknya... hehehe." sahutku nyerocos terus seola aku sudah bisa ga marah kalau ibu nyubit. Padahal aku juga kalau kena cubitan ibu yang sakit juga uring2an. Dan memang sudah dari sononya kalau suamiku ngomong sepatah dua patah aku berpatah-patah. Sesekali suaraku yang merdu membela angin malam lagi saat aku berbicara. Dan saat terdiam, hatiku berbisik..

Ya Allah..
Engkaulah yang menguasai hidup dan mati setiap mahlukMu
Engkaulah yang memberi kekuatan dan kelemahan setiap mahlukMu
Engkaulah yang memberi kesakitan dan kesembuhan setiap mahlukMu
Engkaulah yang berkuasa dan Maha bijaksana

Maafkan hamba bila hamba saat ini belum bisa ikhlas menerima doa saran pak ustad
Maafkan hamba bila hamba egois dengan berharap ibu bisa sembuh dari sakitnya
Maafkan hamba bila hamba egois dengan takut bila ladang amal yang subur ini Engkau ambil
Maafkan hamba bila hamba egois dengan sakitnya ibu Engkau beri kami rahmatMu
Hanya karena kami merasa bisa merawat beliau
Hanya karena kami merasa bisa mendapatkan kesempatan menunjukan bakti kami
Hanya karena kami merasa belum puas menunjukan kebaikan diri
Hanya karena kami merasa bisa bersabar dan ikhlas dengan keadaan dan kepayahan ini
Hingga kami lupa bahwasanya tiada daya dan kekuatan melainkan kekuatan dariMu
Maafkan kami...

Ya Allah....ya Rab..
Betapa picik dan egoisnya kami...
Hanya berharap kebaikan dan kenikmatan bagi kami
Tanpa bisa menyadari..
Bahwasanya Engkaulah Sang pemberi Rahmat pada hamba yang dikehendakiNya
Dengan maupun tanpa sebab
Dengan maupun tanpa minta
Dengan maupun tanpa pamrih

Ya Allah...ya Nur...
Terangilah hati kami...
Untuk Ikhlas dengan sebenar-benarnya ikhlas
Ikhlas tanpa meminta balasan
Ikhlas tanpa mengatakan
Ikhlas tanpa mengingat
Ikhlas tanpa merasakan
Ikhlas dengan mengingat dan memujaMu
Selalu...dan selalu....

Ya Allah....ya Rab..
Hamba berserahdiri pada kehendakMu
Pada setiap pemberianMu
Hamba berserahdiri.......
Lahaulawakuata ilabillah...

Aamiin ya Robbal a'lamiin..

Fitri,

Selasa, 01 Februari 2011

"Bunda Cemburu"

Tenggelam dalam kesibukan bersih2 rumah pagi ini aku dikejutan dengan dering HP memanggil meraung-raung. Kuhampiri dan kuterima panggilan dari mbakyu-ku.

“Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam.. Dik, kamu belum telepon ibu ya…? Kamu ini… Ibu marah-marah itulho..! Barusan Ibu telp aku. Marah-marah karena kamu nggak ngabarkan keadaan ibu. Lha wong masih sehari kontrol ke rumah sakit aja koq ya rame ibu itu… wis emboh . ibu ngomong nggak karu-karuan itulho … Marahnya sama kamu, tapi aku yang kena semprot ini…!!”

Hatiku terasa ada yang menghantam. Sakit dan berat. Mana mbakyu ngomong panjang sekali. Aku mendengarkan dengan mata kedip-kedip bingung.

“Lho…?! Aku itu uda telepon mbak… Tapi ke mas Toto. Lha ibu kerumah sakit kan diantar sama mas. Aku juga sudah Tanya kabar nya. Lha kata mas masih belum ketahuan hasilnya. Masih besok. Lagian atiku wes tenang karena ibu sudah ada yang ngantar. Aku kan ga bisa,lha wong aku ngerawat mertuaku yang sakit juga…masa ga mau ngerti?” jawabku sedikit membela diri. Tapi memang begitulah kenyataannya. Aku sudah memastikan bahwa mas Toto sudah mengantar dan menemani ibu.

“Itu juga..ibu tadi bilang ‘fitri itu kalau mertuanya sakit aja dirawat, diperhatikan. Aku ibunya yang melahirkan sakit jangankan datang, telepon aja enggak. Dia lebih mengutamakan mertuanya daripada ibunya sendiri!’… wes poko’nya ibu marah2 dan ngomong macem2. Sudah kamu telp sana, biar ga tambah marah.”
“Ya Allah…ibu koq sampai marah gitu seh… ya, nanti ta telp. Trimakasih mbak..”
“Ya…Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam…”

HP kumatikan. Aku terduduk lemas. Sebenarnya ini bukan kali pertama ibu marah. Ibu memang keras dan mudah marah2. Tapi setiap kali ibu marah, hatiku selalu sakit dan berat. Sungguh, demi Allah aku tidak ingin membuat ibu marah dan sakit ati padaku. Tapi memang ibu kadang sulit diminta pengertian. Kadang seperti anak kecil yang bila menginginkan sesuatu harus saat itu dituruti, tidak peduli keadaan bagaimana.

Tiba-tiba terlintas ingatanku, saat ibu berpesan untuk dibawakan barangnya yang tertinggal ditempat kostku ke rumah bulek. Saat itu hujan deras. Ibu telp marah2 karena sudah nunggu dirumah bulek tapi aku belum datang. Aku sampaikan alasanku karena hujan deras,sedang aku ga ada jashujan. Tapi jawaban ibu malah membuat hatiku meringis. “Buat orangtua, ga peduli walau hujan ya mestinya kamu tetap berangkat!” Kala itu aku turuti kemauan ibu. Dengan basah kuyup aku berangkat. Tidak peduli perjalanan yang lumayan jauh. Belajar memenuhi permintaan ibu, tapi hatiku menangis.Sepanjang jalan aku menangis ‘Ya Allah…kenapa ibu tidak mau mengerti. Mengapa ibu tidak peduli dengan kesehatanku yang bisa jadi sakit bila hujan2 begini. Mengapa ibu lebih mementingkan barangnya dan kemauannya dan tidak peduli dengan keadaanku. Hiks…’

Aku hanyut dalam lamunan dan kenangan. Namun tiba2 ada suara dihatiku, suara yang lembut tapi jelas kurasakan. ‘apa kamu fikir kamu dulu waktu masih kecil dan dirawat ibumu kamu tidak meminta sesuatu dengan tanpa mau mengerti keadaan ibumu? Bukankah kamu waktu kecil saat dirawat ibumu sering meminta saat itu juga harus ada? Tidakah kamu mengerti bahwa ibumu juga ingin kamu perhatikan sebagaimana ibumu memperhatikan dirimu waktu itu.’

‘Ya Allah…maafkan aku. Jikalau kesibukanku merawat ibu mertua yang sedang sakit ini, menjadikan aku sedikit lupa memperhatikan ibu yang sudah melahirkanku. Maafkan aku, jika aku menuntut ibu mau mengerti keadaanku namun aku tidak mau menuntut diriku untuk mau mengerti keadaan ibuku sendiri. Ya Allah…maafkan aku.. Ibu maafkan aku’ Hatiku berdesir dalam doa harap dan penyesalan. Tak kuasa beningan airmata ini membasahi pipiku.

Segera, kutelepon mas Toto untuk memastikan ibu apa sudah diantar ke rumah sakit untuk mengambil hasil lab.

“Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam…”
“Mas,ibu gimana? Hasilnya sudah ada?”
“Ini juga masih ngantri”
“Ibu marah sama aku ya mas…? Mbak koq bilang ibu marah2 karna aku ga telp?”

“Ya begitulah.. sudah ta bilangin koq kalau kamu juga sudah telp ke aku nanyakan kabar ibu. Sudah ta suruh tenang ga usah marah2 aja. Ibu itu cemburu lihat kamu merawat mertuamu. Biasalah, jadi kaya anak kecil lagi..minta diperhatikan”
“Mana ibu mas…aku ta ngomong”

“Assalamu’alaikum…” suara ibu terdengar dari sebrang
“Wa’alaikumsalam.. bagaimana bu, hasilnya belum tau ya? Ibu gapapa kan?”
“iya gapapa…wong aku masih kuat, belum dibwa ambulan koq!” jawab ibu ketus. terlihat ibu masih marah.

“Jangan gitu toh bu..maafkan aku. Kemarin lho aku juga sudah telp ke mas Toto untuk memastikan ibu ada yang ngantar dan nemenin kontrol ke rumah sakit. Semoga saja ga ada sakit yang berat. Ibu kan sering olaraga. Sakitnya ibu itu pasti kecapean aja..” kucoba mencairkan suasana.
“Ya..semoga saja..terimakash. sudah ya..ini masmu”
“mas, ibu masih marah ta?”
“Sudah, jangan diambil ati. Bentar lagi juga uda enggak.”
“Ya sudah kalau gitu. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam..”

"Beliau ibu Mertua saya"

Bukan kali pertama aku melihat pandangan orang jadi berubah begitu mendengar jawabanku. Pandangannya jadi terasa aneh dimataku. Mereka melihat dengan penuh tanda tanya dan heran. Kadang juga kutemui pandangan yang haru melihatku. Macam2 sih, tapi yang jelas tatapan mereka jadi berubah. Begitu juga pada perempuan yang pada akhirnya memperkenalkan namanya Heni. Dia menjaga ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit ini juga. Dan kebetulan kami sekamar.

“Jadi ibu ini ibu mertua mbak fitri?” tanya mbak Heni dengan memendam heran.
“Iya mbak.”
“Enak ya punya menantu yang baik. Menantu ibu saya mana ada mbak yang mau bantu merawat ibu. Jangankan merawat kaya mbak fitri gini, nengokin ibu di rumahsakit aja nggak ada kelihatan hidungya.”

“hehe… biasa aja mbak. Mertua kan sama dengan orang tua kita. Sudah berapa lama ibunya mbak Heni dirawat disini?” Kucoba mengalihkan perhatian mbak Heni untuk tidak melanjutkan membahas menantu dan mertua.

“Wahh..aku itu yang paling lama dikamar ini mbak. Ibuku kena tumor dikepalanya. Ini rencana mau dioperasi. Tapi masih nunggu dokternya.”

“Biaya operasi sampai berapa mbak..mahal ya?”
“Ibu kan ada Askes mbak, untuk tindakan ga bayar. Tapi alatnya beli sendiri. Ini disuruh nyiapkan uang sekitar 10jt.”
“Walah…yang sabar mbak…”

“Iya mbak..gini ini saudaraku ga mau ikut peduli mbak… ini aku jadinya keluar dari kerjaan untuk merawat ibu,karena kakaku ga mau diminta gentian jaga pagi. Dia mintanya jaga malam. Jadi ya sudah, aku keluar dari kerjaanku.”

Hatiku tersentu mendengar cerita mbak Heni. Padahal dia sudah lama bekerja di perusahaan yang besar dan terkenal gajian karyawannya besar. Sayang dia keluar, dan hebat dia memutuskan disaat ibunya membutuhkan dirinya. Diam2 aku tersenyum salut padanya. ‘Anak yang berbakti’ bisiku dalam hati.

Seorang perempuan menghampiri kami. Dia yang menjaga ibu yang tempat tidurnya dekat jendela. Dengan ramah dia tersenyum pada kami.

“Baru masuk ya mbak, ibunya sakit apa?” tanya perempuan itu padaku
“Iya mbak, Ibu kena Stroke. Kata dokter ini serangan kedua. Tangan dan kaki kiri ibu tidak bisa digerakan.” Jawabku
“Sama dengan ibuku. Tapi ibuku yang sebelah kanan.”

“Mbak Mia, ini lho menantunya. Bukan anaknya sendiri.” Mbak Heni menengahi pembicaraan kami
“Masa sih? Koq kaya anak sendiri ya… ga canggung sama sekali kalau merawat ibunya?”
“Iya, beliau ibu mertua saya” jawabku membenarkan

Lagi-lagi tatapan heran itu kutemukan lagi. Sampai-sampai ganti aku yang merasa heran. Memang kenapa kalau aku merawat mertuaku? Aneh? Apa memang sudah langkah menantu merawat mertua? Apa setiap menantu itu selalu tidak akur dengan mertua? Aneh orang-orang ini… aku ga habis pikir. Aku jadi salah tingkah dan malu sendiri kalau melihat tatapan dan pujian mereka. ‘Biasa aja kaleeee….! Ya Allah, jangan lenakan hatiku dari pujian mahlukMu’ Teriaku dalam hati.

“Satu ruangan ini lho, semua yang jaga anak kandungnya. Sampean aja yang jaga mertua. Beruntung ibu ini punya menantu yang baik.” Lanjut mbak Mia.
Sudah kalang kabut aku mengalihkan perhatian mbak-mbak ini. Koq jadi mbahas menantu dan mertua lagi.

“Hehehe..biasa aja mbak. Adiknya suamiku kerja semua, jadi ibu aku yang jagain. Kalau sore juga adiknya kesini gantian koq”
“Kalau dirumah ibu siapa mbak yang jaga?” mbak Heni ikut bertanya
“Ya aku mbak…dulu aku kerja juga. Karena ibu sakit dan suamiku yang jaga ibu, jadinya aku yang keluar dari kantor ganti jaga ibu. Biar suamiku yang kerja, aku yang dirumah mbak. Hehe… Kadang2 aja sih stress.. karena kebiasaan kerja, bosen dirumah terus”

“Istrinya kakaku mana mau bantu ngerawat ibu. Kakaku sendiri aja kalau kesini cuman ngliatin tok. Ga bantu apa2. Gitu itu yang paling disayang sama ibu. Kemarin aku sampai nangis mbak. Karena waktu ibu nggak ingat, yang disebut itu cuman kakakku yang pertama itu. Sama aku ga ingat. Padalah aku yang ngerawat.” Mbak Mia curhat sambil menggeser duduknya. Kami memang sedang bergerombol diluar kamar, karena kamar sedang dibersihkan oleh petugas rumahsakit.

“Walaahhh….nggak diakuin anak rekk…. Mau bunuh diri ini?” Ledek mbak Heni
“Hwahahaha….” Kami tertawa lepas. Lumayan, ngobrol sama sesama penjaga orang sakit bisa menghilangkan kepenatan.

Selang beberapa saat kemudian kami berhamburan masuk ke kamar. Dokter sebentar lagi keliling memeriksa pasien. Kami masing2 mendampingi ibu kami. Kulihat sekeliling kamar ukuran 6x8mtr bercat warna putih. Ada 8 tempat tidur pasien. Kelas III. Sebenarnya ibu tempatnya di kelas I karena ibu PNS dengan golongan yang lumayan tinggi. Namun kelas I penuh begitu juga kelas II. Jadi terpaksa kami di kamar kelas III.

Tapi tidak apa-apa. Disini lebih banyak teman untuk berbagi cerita. Dikamar ini juga masih ada dua tempat yang masih kosong. Dan memang kebanyakan yang menemani mereka anak sendiri atau suaminya. Bukan menantu. Hanya aku yang menjaga mertua. Tapi aku yakin, diluar sana masih banyak menantu-menantu yang jauh lebih baik dari aku. Dan aku berharap menantu yang baik dengar mertua tidak langkah dijaman sekarang. Biar bila ada orang yang bertanya lagi dan aku jawab bahwa ibu adalah ibu mertuaku, mereka tidak heran dan menatapku dengan pandangan aneh.

Selasa, 14 Desember 2010

Pilihanku

“Ayoo belanja fit…! Minta uangnya lima ribu”
“Hehehe…mana cukup bu belanja uang lima ribu aja”
“Ya cukup…di cukup cukupkan.. mana, minta uang lima ribu!”
“Tukang sayurnya belum datang bu…lagian fitri kan uda masak”
“Belanja apa gitulho fit.! Masa’ kita ga belanja. Ya harus belanja buat masak”
“Kan sudah masak bu..”
“Iyaa..fit. tapi kan ya harus belanja. Minta uangnya lima ribu!”
“Kita kan uda masak… ibu tadi juga sudah sarapan kan.. ikan apa tadi buu..?”
“Ikan apa yaa…lupa fit”

Itulah percakapanku dengan ibu pagi ini. Dan memang hampir setiap saat akan seperti itu. Selalu tarik-tarikan otot dulu.. Mencoba memberi penjelasan dan pengertian pada ibu, yang ada biasanya malah ibu nadanya tinggi. Akhirnya aku memilih diam dan mengalah.

Semenjak bulan Ramadhan yang lalu, Ibu menderita sakit Stroke. Ada penyumbatan di pembuluh darah di otak. Efeknya tangan dan kaki kiri ibu melemah. Daya ingat dan kesadarannya juga turut melemah. Sering seperti anak kecil lagi. Mudah lupa. Bersyukur ibu masih mampu berjalan mesti pelan-pelan.
Padahal masa pensiun ibu masih cukup lama. 7 tahun lagi. Yang ada sementara ini kami mengajukan cuti sakit. Entah sampai kapan.

Seharian dirumah nemenin ibu, ternyata bukan pekerjaan yang mudah untuk dijalani. Apalagi bukan hanya untuk sehari dua hari. Yaah…akulah yang bertugas menjaga ibu. Keluar dari pekerjaan dan duduk manis dirumah. Hal yang tidak pernah kubayangkan. Kebiasaan dan sifat aktifku seakan diblokade. Gerakku tak sebebas dulu. Tak heran rasa bosan sering mengintip dan menghampiriku. Bete.Terlebih pada saat ibu susah diberi pengertian ataupun diingatkan. Dadaku ada yang menghantam dan mau meledak. Bersyukur malaikat di pundak kananku senantiasa setia menyirami dengan air tak berbui. “hmmm…ibumu sedang sakit fit. Kasihan.. Kamu harus sabar…” itu yang sering dia sampaikan padaku.

Tapi ini sudah jadi keputusanku. Sudah jadi jalan yang kupilih. Memilih keluar dari pekerjaan dan merawat ibu. Karena hati kecilku tidak bisa menerima melihat suamiku yang menjaga ibu dirumah dan tidak bisa melanjutkan usahanya, sedangkan aku yang keluar rumah untuk bekerja. Mencari orang untuk menjaga ibu juga sulit dan harus pilih-pilih. Jadi ya sudah...apapun itu resikonya, aku harus bisa dan kuat menjalani. Apalagi jiwa-ku pun berontak saat aku harus jadi karyawan lagi. Dengan jam-jam yang harus dipatuhi. Hughh...sudah tidak tahan. Ingin menekuni usaha sendiri saja. Tidak ada aturan yang mengekang kecuali aturanku sendiri.

“Fit…aku ini berangkat diantar siapa?” ibu membuyarkan lamunanku
Terlihat ibu dengan baju yang tidak benar cara pakainya, dan jilbab terbalik telah berdiri di depanku. Dengan membawa tas yang berisi barang-barang yang seharusnya tidak dibawa, ibu merasa siap untuk berangkat kerja.

“Ibu mau kemana?”
“Ya kerja fit…aku sama siapa, sama kamu ta? Ayoo..”
“Ibuu.. ibu masih libur. Ibu kan masih sakit.” Kucoba memberi penjelasan.
“Iyaa…tapi kan ya harus kerja fit. Masa’ ga kerja”
“Masa’ kerja pakai baju gitu. Mana jilbabnya kebalik lagi…”
“Masa’ sih… ndakpapa wis…aku ini berangkat sama siapa..? Ayoo fit..!”
“Ibu nanti kerja sama fitri aja..tapi dirumah”
“Kerja apa?”
”Ya apa aja, pokoknya dirumah. Kerja dirumah.” kucoba merayu dan mengalihkan
”Ya uda..Tapi bener ya...? ”
”Iyaa.."